Selama beberapa tahun terakhir banyak
usaha yang telah dilakukan oleh pak Haji Slamet (PRIMKOPTI Jakarta
Pusat) dan teamnya sebagai ahli tempe untuk mengembangkan Tempe Lupin
yang rasanya akan diterima oleh masyarakat Indonesia. Usaha yang cukup
panjang dan sukar dengan hasil awal yang cukup baik meskipun tidak dalam
level kualitas yang dapat diterima. Selama akhir tahun 2012, pak Haji
dan team memperkenalkan hasilkan yang sangat mengesankan, tetapi
memiliki kelemahan karena tergantung pada sisa air dari rendaman kedelai
yang digunakan dalam proses tersebut. Ahli teknologi pangan Australian
kemudian berhasilkan menemukan penyebabnya dimana peningkatan kualitas
dikarena kadar keasaman (pH) air rendaman kedelai. Pak Haji dan team
kemudian menguji air baku biasa di Jakarta dan baru menyadari bahwa air
ledeng, air sumur, air sungai dan lainnya semua dapat digunakan untuk
perendaman kacang Lupin pra-fermentasi dengan baik selama air itu tidak
direbus.

Sementara itu, Australia Lupin Foods
melakukan modifikasi pabrik yang cukup mahal untuk memisahkan cangkang
dengan kacang lupin agar menghasilkan ukuran biji Lupin yang tepat.
Lupin yang bersih dan memiliki ukuran biji yang seragam dapat
meningkatkan kualitas tempe yang dihasilkan.
Hal yang paling menarik adalah bahwa
cara pembuatan tempe Lupin menjadi tiba-tiba lebih cepat dan mudah
dengan hasil yang fantastik baik dari sisi tampilan, rasa maupun tekstur
tempe tersebut. Berbeda dengan Kedelai, proses fermentasi Lupin lebih
cepat yaitu cukup 24 jam, bandingkan dengan 36 jam pada Kedelai dengan
umur simpan yang sama.
Tahap selanjutnya, Tempe Lupin dibuat di
Jakarta, Bali, Malang, Semarang dan Surabaya menggunakan resep baru.
Bahkan mereka yang semula tak percaya mengakui tempe Lupin sangat baik.
Paling penting, anggota masyarakat sekitar dan keluarga pembuat tempe
yang mendapat kesempatan mencoba Tempe baru tersebut. Mereka sepakat,
tampilan menarik dan rasa asyik dari tempe Lupin.
Percobaan ini juga dilakukan pada
beberapa kota lain dengan air ledeng, air sungai dan air sumur dengan
temperatur yang berbeda untuk mengetahui apakah ada perbedaan dari
lingkungan yang berbeda tersebut. Hasilnya, terdapat perbedaan dari sisi
lamanya perendaman akibat adanya perbedaan air dan suhu. Proses
perendaman di kota yang lebih dingin seperti Malang membutuhkan waktu
yang lebih lama. Itu yang menjadi alasan mengapa dalam resep dinyatakan
12-15 jam, bukan hanya 12 jam. Seluruh pembuat tempe harus mengecek
lamanya waktu perendaman tersebut untuk memastikan tempe terbaik di
daerah tersebut. Ada perbedaan jumlah ragi yang digunakan, dengan
sedikit tambahan dibandingkan dengan yang digunakan pada Kedelai.
Faktor lain yang ditemukan selama
pengembangan Tempe Lupin adalah bahwa banyak pembuat tempe menggunakan
air mentah ketika mereka membuat ragi basah. Ragi yang telah dilarutkan
dengan air tersebut selanjutnya digunakan untuk melapisi Kacang Kedelai
atau Lupin. Sayangnya hal tersebut juga membuat organisme dalam air
ikut pada proses fermentasi dan bersaing dengan Ragi. Akibatnya rasa
tempe tidak terlalu enak. Adalah penting untuk mencegah hal tersebut
dalam pembuatan tempe Lupin. Setelah merendam, Lupin perlu direbus
selama beberapa menit untuk membunuh semua organisme dalam air mentah
dan air ragi juga harus direbus sehingga hanya ada Ragi dalam proses
fermentasi tanpa organisme lainnya (tidak ada organisme air yang
mempengaruhi rasa).
Begitulah, serangkaian cerita bagaimana
Tempe Lupin dikembangkan dan mengapa rasanya begitu enak dengan proses
pembuatan yang sederhana. Tidak perlu mencuci Lupin karena dikirim
dalam keadaan bersih tanpa debu atau apapun. Rendam mereka semalaman,
didihkan selama 15 menit dan tambahkan Ragi. Begitu mudah dan cepat.
Jadi bagaimana tampilan Lupin? Lupin
memiliki warna kuning atau keemasan yang lebih terang dari kedelai yang
lebih berwarna putih/kuning. Sulit membedakan Tempe Lupin dan Tempe
Kedelai pada saat Tempe dalam keadaan utuh. Tetapi ketika dipotong,
warna kuning terang Lupin akan terlihat diantara jamur putih. Banyak
orang menyukai warna keemasan tersebut, sementara yang lain lebih
memilih tampilan seperti tempe Kedelai. Memang ini pilihan personal.
Seperti apa rasanya? Selama tahun 2013
dari ratusan orang yang telah mencicipi tempe Lupin yang dibuat dengan
resep baru. Mereka tidak melihat banyak perbedaan dengan tempe umumnya.
Sama rasanya dengan tempe Kedelai. Bahkan banyak yang lebih memilih
Tempe Lupin karena menurut mereka rasa kedelai dan manis lebih terasa. Dengan
semakin banyak orang Indonesia mengkonsumsi tempe maka di tahun-tahun
kedepan akan terlihat apakah orang akan lebih memilih tempe tradisional
dari kedelai atau tempe lupin. Pilihan rasional tentunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar